Minggu, 17 April 2011

PERJALANAN PERKEMBANGAN TAMAN AGROWISATA BUANA PURI

  1. Latar Belakang

Berawal pada keingintahuan terhadap kondisi tanah milik pribadi yang sempat dibelinya saat membuka dan memimpin proyek perkebunan di daerah Cakrawati, di kaki Gunung Cakra Buana di Kecamatan Lemah Sugih, Majalengka pada tahun 1967. Ir.H.Sulaeman Krisnandhi Msc. Datang kembali pada pertengahan tahun 1995 dan menikmati keberadaannya di daerah Lemah Sugih dengan melakukan banyak kegiatan hobinya dalam perkebunan dan pertanian dengan menanam berbagai tanaman baik tanaman buah, sayuran maupun tanaman kayu di beberapa tanah yang dibelinya kemudian setelah beberapa kali kembali ke daerah ini.

Setelah hampir 2 tahun menikmati aktivitas ini, dengan secara rutin setiap minggu mengunjungi tanah dan perkebunannya, Ir.H. Sulaeman Krisnandhi memutuskan untuk membangun rumah peristirahatan pribadi, setelah selama ini menumpang di rumah kerabat setiapkali datang ke Lemah Sugih.

Maka pada tahun 1996 mulailah dibangun Villa Buana Puri, yang menjadi fokus kegiatan dan kesenangannya saat itu, karena secara langsung mendesain dan mengawasi pembangunannya sehingga menjadi satu-satunya Villa dengan desain Western Country di daerah ujung Selatan Majalengka.

Seiring dengan kesenangannya melakukan berbagai kegiatan di daerah ini, istri Ir.H.Sulaeman Krisnandhi, Atikah Krisnandhi juga menikmati keberadaannya di Lemah Sugih, dengan membuat banyak Taman Bunga di beberapa tanah yang dimiliki, salah satunya yang berada di daerah Marga Jaya. Di daerah tersebut dibuat taman bunga yang dikelilingi oleh lahan pertanian dan hutan, yang berada di pinggir jalan menuju desa Lemah Putih.

Keindahan Taman tersebut membuat lokasi ini banyak dikunjungi oleh warga sekitar setiap sore hari, bahkan cukup melimpah pada Sabtu dan Minggu. Kondisi ini memunculkan ide bagi Ir.H.Sulaeman Krisnandhi Msc. Untuk membangun suatu monumen yang dapat menjadi daya tarik kawasan Lemah Sugih ini untuk semakin dikunjungi karena keindahan alamnya.

Pada tahun 1999 dibangunlah patung dinosaurus di lokasi ini, dengan ukuran dan penampilan yang dibuat seperti aslinya. Dengan tinggi 17 meter dan panjang 25 meter, patung Dinosaurus jenis Brachiosaurus ini menjadi suatu monumen yang sangat menyolok, mengingat berdasarkan literature yang ada, saat itu belum ada patung dinosaurus sebesar itu di bangun di Indonesia. Pemilihan pembuatan patung dinosaurus semata-mata lebih ditekankan pada popularitas dinosaurus saat itu sebagai obyek yang menarik bagi anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia. Bahkan menurut Ir.H. Sulaeman Krisnandhi, pembuatan patung dinosaurus juga adalah salah satu upayanya agar anak-anak dan cucunya sering berkunjung ke tempat ini, karena kegiatannya di Lemah Sugih lebih banyak dilakukan berdua dengan istrinya.

Tidak lama setelah dibangunnya patung dinosaurus ini, popularitas wilayah ini semakin cepat berkembang, bukan saja meliputi wilayah kecamatan Lemah Sugih, tetapi juga menjadi ikon Majalengka dalam pengembangan wisata di wilayah Majalengka Selatan.

Taman Dinosaurus banyak dikunjungi bukan saja oleh warga majalengka, tetapi wisatawan dari daerah Tasik, Sumedang, Kuningan dan Cirebon seringkali datang ke tempat ini. Keindahan daerah pegunungan di kaki gunung Cakra Buana menjadi sangat kontras dengan adanya patung dinosaurus ini, yang menjulang tinggi diatas salah satu bukit di wilayah Lemah Sugih ini.

Kepopuleran taman Dinosaurus ini menarik perhatian pemerintah daerah Majalengka, sehingga melalui Dinas Budaya dan Pariwisata ditetapkan sebagai wisata unggulan untuk wilayah Majalengka Selatan, yang diharapkan dapat memacu pengembangan pariwisata bagi daerah sekitarnya.

Seringnya berkunjung pejabat-pejabat pemerintahan Majalengka, baik Bupati, Kapolres maupun anggota –anggota DPRD Majalengka ke Buana Puri saat melakukan kunjungan tugasnya ke wilayah Lemah Sugih, semakin menarik perhatian Pemerintah Majalengka untuk mengembangkan pariwisata di daerah ini, karena sebagai sentra agrobisnis, kecamatan Lemah Sugih sangat cocok untuk pengembangan agrowisata, yang sedang dimunculkan oleh Pemerintah Daerah sebagai daya tarik utama pariwisata Majalengka.

Dengan dorongan dari warga sekitar, serta pihak-pihak di pemerintahan daerah Majalengka, maka pada tanggal 8 Agustus 2003, dibukalah salah satu perkebunan milik Ir.H.Sulaeman Krisnandhi menjadi Taman Agrowisata, dengan nama Taman Agrowisata Buana Puri, yang meliputi Taman Dinosaurus seluas 4 hektar dan Taman Agrowisata seluas 16 hektar.

Tidak banyak yang di renovasi pada taman ini, karena sebelum dibuka di lokasi Taman Agrowisata ini sudah terdapat Kolam Renang, Taman-taman bunga, lapangan Golf mini, bungalow dan hutan pinus, yang sebelumnya merupakan taman rekreasi keluarga dan kolega Ir.H.Sulaeman Krisnandhi.

  1. Fasilitas

Taman Agrowisata Buana Puri dibuka dengan tujuan menjadi salah satu tujuan agrowisata di wilayah Majalengka, karena beberapa potensi di lokasi ini cukup menarik meskipun diawali sebagai kegiatan hobi dan bukan untuk tujuan bisnis.

Perkebunan Buah

Sebagai lokasi perkebunan, Taman Buana Puri mempunyai sekitar 600 pohon durian dari berbagai jenis baik varitas unggulan lokal seperti Sitokong, Hepe, Tembaga dll, maupun varitas unggulan dari Thailand seperti Montong dan Chane. Dengan jumlah sebesar itu, Taman Agrowisata Buana Puri merupakan salah satu perkebunan durian terbesar di Jawa Barat, karena saat itu tidak banyak perkebunan durian milik pribadi yang terkonsentrasi di satu tempat, bahkan perbincangan dengan beberapa pihak di Majalah Trubus, yang menjadi sumber informasi sebagian besar komunitas pertanian dan perkebunan di Indonesia, umumnya perkebunan-perkebunan besar durian hanya mempunyai populasi sekitar 125 pohon saja. Sehingga perkebunan 600 pohon durian merupakan sesuatu yang langka dan dianggap besar saat itu di Indonesia. Karena didaerah-daerah sentra durian pun umumnya setiap individu hanya memiliki puluhan pohon saja.

Pertumbuhan yang baik dari perkebunan durian tersebut, membuat salah satu anak Ir.H.Sulaeman Krisnandhi, yaitu Ir.Giri Buana tertarik untuk mensertifikasi 56 pohon durian di lokasi ini menjadi pohon induk yang bersertifikat, sehingga selain teruji kualitasnya, juga berhak untuk memberi label bibit unggulan dari setiap bibit yang dibuat dari pohon-pohon tersebut.

Sertifikasi bagi 56 pohon durian unggulan ini, kembali menjadi perhatian pihak Balai Sertifikasi Bibit tanaman buah Majalengka, dan juga balai sertifikasi bibit tanaman buah Jawa Barat, karena baru kali ini ada pemilik pohon induk yang mensertifikasikan pohon duriannya sebanyak 56 pohon yang terkonsentrasi di satu lokasi atau disebut Blok pohon induk, karena selama ini, meskipun Majalengka adalah salah satu sentra terbesar penangkaran bibit buah-buahan di Indonesia, terutama bibit durian, setiap penangkar umumnya hanya mempunyai sekitar 3 hingga 5 pohon induk saja, sehingga belum ada yang layak dalam kriteria sebagai blok pohon induk.

Dengan kondisi ini Taman Buana Puri merupakan pemilik pohon induk durian terbesar saat itu di Majalengka, dan seringkali ada permintaan dari penangkar-penangkar bibit durian Majalengka, untuk mendapatkan tunas pohon induk ini sebagai bahan perbanyakan untuk bibit durian bersertifikat mereka.

Selain tanaman durian, di lokasi Taman Buana Puri saat itu juga terdapat 2.000 pohon jeruk berbagai jenis, seperti jeruk siam, mandarin, frimong, garut, keprok Madura, dll. Serta buah-buahan lainnya seperti alpukat, jambu air, serta berbagai tanaman buah langka.

Tanaman kayu juga merupakan tanaman yang mendominasi di lokasi ini, antara lain terdapat lebih dari 2000 pohon pinus dan beberapa ratus pohon mahoni dan meces. Banyaknya tanaman pinus ini juga menjadi daya tarik lain yang ditampilkan Taman Buana Puri.

Sirkuit Motocross

Pada Agustus 2004 dilokasi Taman Agrowisata Buana Puri di bangun sirkuit Motocross, dengan ukuran dan standar yang mengacu pada aturan Ikatan Motor Indonesia (IMI) untuk sirkuit setingkat Kejurnas. Pembangunan sirkuit ini dilakukan dibawah pengawasan IMI Jawa Barat, karena direncanakan akan menggelar event-event setingkat Kejurda. Keberadaan sirkuit ini menarik perhatian pihak pelaku-pelaku kegiatan olah raga Motocross di Majalengka dan sekitarnya, karena saat itu baru ada satu sirkuit Motocross permanen di Majalengka, selebihnya hanya merupakan sirkuit dadakan saat akan diadakan kejuaraan Grasstrac atau Motocross.

Kolam Renang

Salah satu daya tarik Taman Agrowisata Buana Puri adalah adanya kolam renang, hal ini terjadi karena merupakan satu-satunya kolam renang di wilayah Lemah Sugih dan sekitarnya. Pada hari-hari Sabtu, Minggu dan hari libur Nasional, kolam renang ini dipenuhi banyak pengunjung, selain karena ukurannya tidak terlalu besar, karena tidak disiapkan untuk menampung banyak pengunjung juga banyak pengunjung yang baru pertama kali bermain di kolam renang, karena cukup jauhnya jarak ke kolam renang terdekat yaitu di daerah Talaga, Majalengka, atau di Wado, Sumedang.

Kolam renang ini juga saat itu diminati banyak sekolah, baik setingkat SD maupun SLTP untuk sarana latihan berenang bagi siswa-siswinya, karena selama ini kesulitas mendapatkan lokasi untuk kegiatan olah raga berenang bagi siswa-siswinya, karena jaraknya yang terlalu jauh.

Lapangan Golf

Lapangan Golf yang ada di Taman Buana Puri lebih tepat disebut Mini Golf Course, karena selain tidak terlalu luas, juga kapasitasnya terbatas hanya untuk beberapa pemain saja, karena memang dibuat hanya untuk bermain Ir.H.Sulaeman Krisnandhi sendiri, maupun dengan koleganya dari Jakarta dan Majalengka. Saat itu terdapat Driving Range sepanjang 250 meter, serta dua lokasi Pitching dan Putting.

Taman Dinosaurus

Taman Dinosaurus berada di blok yang bersebrangan dengan Taman Agrowisata, meskipun masih dalam kompleks Taman Buana Puri. Dilokasi ini terdapat dua buah patung Dinosaurus, yaitu jenis Brachiosaurus dengan 2 ukuran, yang besar adalah tinggi 17 meter dan panjang 25 meter, sedangkan yang kecil hanya tinggi 3 meter dan panjang 4 meter.

Taman ini selalu dikunjungi banyak orang setiap Sabtu dan Minggu, terutama anak-anak, bahkan tidak jarang sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak melakukan kegiatannya di lokasi ini, karena dilengkapi dengan beberapa alat permainan anak-anak.

Dilokasi ini pula banyak pedang-pedagang dari sekitar Lemah sugih yang ikut berjualan, sehingga keberadaan mereka semakin meramaikan suasana di lokasi ini, dan bagi pedagang-pedang tersebut Taman Dinosaurus menjadi pendukung sumber penghasilan mereka.

3. Lokasi dan kesampaian daerah

Taman Agrowisata Buana Puri berada di Desa Lemah Putih, Kecamatan Lemah Sugih, Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat. Meskipun relatif berada di ujung Selatan wilayah Kabupaten Majalengka, namun karena posisinya yang berada di kaki Gunung Cakra Buana membuat lokasi ini berjarak hampir sama ke beberapa Kabupaten lain, yaitu Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang dan juga Kuningan, yaitu sekitar 60 km, atau antara 1,5 jam hingga 2 jam lamanya perjalanan dari kota-kota tersebut ke lokasi Taman Buana Puri.

Jarak yang tidak terlalu jauh ke beberapa kota tersebut pada dasarnya menjadi prospek yang baik bagi pengembangan pangsa pasar Taman Agrowisata Buana Puri, karena tidak semata-mata mengandalkan pada potensi pengunjung dari wilayah Majalengka saja.

- Kesampaian daerah dari Majalengka

Lokasi Taman Buana Puri dapat dicapai dari kota Majalengka dengan melalui bundaran di Cigasong yang mengarah ke Kabupaten Kuningaan, melalui Kecamatan Talaga. Di Pasar Talaga Belok Kanan dengan arah menuju Wado. Sekitar 20km dari pasar Talaga tersebut terdapat pertigaan Pasir Hanja di Desa Margajaya, dan lokasi berada kearah Selatan atau belok kiri di Pertigaan tersebut, dengan jarak sekitar 1km.